Roadshow Lake Toba Traditional Music Festival 2.0 Angkat Kolaborasi Komposer dengan Pemusik Tradisi

Roadshow Lake Toba Traditional Music Festival 2.0 Angkat Kolaborasi Komposer dengan Pemusik Tradisi

Rumah Karya Indonesia, Medan _ Roadshow Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) 2.0 yang dilaksanakan di Dairi mengangkat Kolaborasi antara komposer dengan pemusik tradisi Pak-pak yang ada di sanggar-sanggar sekitaran Dairi. Hal ini disampaikan oleh Ojax Manalu Direktur Rumah Karya Indonesia, Sabtu (21/5).

Ojax menjelaskan produk kolaborasi ini adalah Eta Margondang yang akan menghasilkan komposisi-komposisi musik tradisi dari 4 Puak (Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak). “Para komposer yang sudah kita seleksi akan mengajak anak-anak muda dan seniman di daerah roadshow kita untuk menciptakan reportoar musik tradisi, ” ujar Ojax. Tanpa menghilangkan esensi festival itu sendiri, yakni menyampaikan edukasi tentang geopark kaldera Toba melalui musik tradisi, tambahnya.

LTTMF ini merupakan rangkaian acara dari Festival Musik Tradisional Indonesia. Ojax mengatakan, festival ini sebagai momen memperkenalkan musik tradisi yang ada di Danau Toba untuk didengar masyarakat yang lebih luas.

Ojax menyebutkan bahwa akan dilakukan 2 kali roadshow sebelum acara puncak LTTMF di Meat, Tempahan pada Agustus nanti. Adapun roadshow pertama dilakukan hari ini di Dairi, dan yang kedua di Taman Mejuah-juah Karo pada 3-4 Juni mendatang.

Adapun rangkaian acara LTTMF ini yaitu Lomba mewarnai ornamen Pak-pak untuk kategori TK dan SD, lomba merkalondang, dan lomba mernangen, serta workshop “Organologi Mustika dan Teknik Permainan Sarune Pak-pak.” Selanjutnya ada pertunjukan kesenian etnis Pak-pak yang dibawakan sanggar-sanggar di Dairi dan Pasar Geopark yang menjajakan produk-produk UMKM yang ada di Dairi. Selain itu ada pertunjukan Eta Margondang dengan tajuk “Perdalenen” yang melibatkan 4 sanggar yang ada di Dairi dengan komposer Sintong Pasaribu.

Sintong menjelaskan, setidaknya ia membutuhkan waktu sebulan untuk mentrasfer komposisi musik yang diciptakannya kepada sanggar-sanggar tersebut. “Minimallah aku sekali seminggu bolak balik Medan Dairi untuk latihan, ” kata Sintong.

Komposisi musik ini menceritakan perjalanan Raja Silalahi Sabungan yang pergi dari rumahnyke daerah Tao Silalahi sekarang yang dihuni oleh masyarakat Pak-pak. Kedatangannya disambut hangat oleh orang Pak-pak dan tak lama ia menikah dengan salah satu Putri raja Pak-pak. Kebahagiaan atas pernikahan Raja Silahisabungan itu tidak sampai di Tao Silalahi saja tapi hingga ke Sim-sim. tempat pihak keluarga perempuan Pak-pak itu. Kebahagiaan mereka pun disalurkan dengan menggelar pesta buah baik.

Reportoar ini dibagi menjadi 8 bagan dalam satu komposisi. Sintong menyebutkan ini adalah pengalaman pertamanya untuk menggarap musik yang melibatkan unsur musik dari 4 puak yang ada di Danau Toba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.