Rilis Rumah Karya Indonesia

  Begawai Nusantara: mari bekerja untuk merekat kembali kenusantaraan

Begawai Nusantara: mari bekerja untuk merekat kembali kenusantaraan

by Roni Keron on 03 September 2020 0 comments

Begawai Nusantara, adalah sebuah jaringan kebudayaan yang mempunyai cita-cita menjalin kembali rajutan kebangsaan melalui sebuah festival. Jaringan ini, tersebar di beberapa kota antar pulau. Setidaknya, ada 13 festival yang tergabung dalam jaringan begawai Nusantara ini. Mulai dari ujung Sumatera, Jawa, dan pedalaman Kalimantan. Mereka yang tergabung dalam jaringan Begawai Nusantara ini, kemudian saling mengunjungi, saling berbagi pengetahuan, mempelajari kearifan masing-masing, kemudian merayakan perbedaan-perbedaan melalui festival. Bagi mereka, Festival dalam hal ini kesenian, menjadi semacam pintu masuk untuk menggugah “rasa” masyarakat. Bagaimana kemudian bisa mendorong masyarakat untuk bisa memetakan kembali modal-modal kultural yang mereka miliki, kemudian bisa menghelatnya bersama. Baik itu potensi seni, pengetahuan-pengetahuan tradisional, permainan-permainan rakyat, wisata, dan lain sebagainya. Karena bagi mereka, kepentingan masyarakat banyak, adalah kekuatan utama festival mereka. Tidak hanya berfestival, Begawai Nusantara ini juga menggelar serial-serial diskusi. Mereka meyakini bahwa festival yang dilakoni oleh masyarakat di desa-desa mampu memunculkan gagasan-gagasan yang semestinya bisa menjawab persoalan kontemporer keindonesiaan kita. Termasuk persoalan-persoalan intoleransi atas dasar keberagaman kebudayaan kita. Terkait itu, sebagai bagian dari Begawai Nusantara, Ojax Manalu bercerita. Nusantara, sebagai sebuah kesatuan kultural, sudah sejak lama terbiasa dengan apa yang disebut dengan keberagamana. Keberagaman itu yang kemudian menandai masing-masing pendukung satu kebudayaan. Keberagaman itu pula yang sebenarnya memberikan kita sebuah pengertian yang begitu penting. Yaitu, sebuah penghargaan. Bagaimana bisa tetap menerima yang berlainan dengan pada kita. Katakanlah itu, cara hidup, cara bersukur, cara bertuhan, cara mengatur masyarakat, dan lain lain dan lain lain. Bagaimana mungkin kita bisa menyalahbenarkan orang lain dengan ukuran kebenaran dan kesalahan dari kita. Bagaimana pula mungkin kita mengukur orang lain dengan meteran-meteran prasangka yang kita punya. Lebih lanjut ia menjelaskan, namun, agaknya setelah nusantara itu diproklamirkan atas dasar kesatuan politik, perbedaan-perbedaan, keberagaman itu tidak dijadikan sebagai sebuah kekuatan bersama. Barangkali kesadaran berbeda beragam itu ada hanya ketika merasa satu nasib di bawah kuasa kolonialisme belaka. Benar, kekuatan politiklah yang ketika itu mampu mengumpulkan ragam kekuatan yang terpisah dan tersebar di wilayah-wilayah kebudayaan di nusantara ini. Namun setelahnya, politik pula lah yang mendorong pecahnya kembali perbedaan-perbedaan itu. Kita kemudian diseret-seret dalam istilah identitas. Kita serupa dihangat-hangatkan dengan perbedaan-perbedaan kesukuan. Kita seolah dipanas-panasi pula dengan perbedaan-perbedaan pandangan politik. Kita seakan-akan diobok-obok dalam perbedaan keyakinan. Maka, dalam pada itu, Rumah Karya Indonesia (RKI)—salah satu jejaring Begawai Nusantara—mengajak kita semua untuk berbagi pengetahuan, memperluas jaringan, dan lebih penting adalah melawan praktek-praktek yang memecah belah keberagaman kita. Sebuah serial forum diskusi yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi zoom selama 1 bulan. Serial ini akan membahas, apa itu festival warga, bagaimana pelaksanaannya, bagaimana dampaknya. Dengan harapannya, melalui forum diskusi ini bisa mengumpulkan gagasan-gagasan dari komunitas budaya, yang barangkali bisa disumbangkan untuk keindonesiaan kita. Baik itu dalam hal ekonomi, politik, sosial dan budaya. Seri pertama forum diskusi ini akan diadakan pada hari kamis, tanggal 3 September, jam 15.30, dengan topik pembicaraa mengenal festival warga. Begawai Nusantara mengajak para pegiat festival warga untuk memperdengarkan apa yang telah mereka lakukan. Roni Keron dari nagari (desa) Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang panjang, Kec. Luak, kab. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Inisiator sekaligus kurator Legusa Fest, sebuah perayaan kesenian anak-anak nagari. Mendorong anak-anak nagari di 6 jorong (dusun) membuat kelompok kesenian, membuat berkarya bersama, lalu mementaskannya keliling kampung. Fafa Utami, kurator indonesiana, director program International Gamelan Festival, konsultan kreatif Festival Cerita dari Blora, producer & pimp produksi Solo Karnaval Boyong Kedhaton, pagelaran kolosal adeging kota Solo, Setan Jawa at ASIA TOPA Art Centre Melbourne. Serta dimoderatori oleh Hardiansyah Ay, inisiator sekaligus kurator Festival Panen Kopi, Gayo, kurator Jazz Panen Kopi, dan Lakbok World Music Festival.

Baca Selengkapnya
LTFF 4.0 Adakan Webinar Sebagai Perangsang Gairah Perfilman Lokal

LTFF 4.0 Adakan Webinar Sebagai Perangsang Gairah Perfilman Lokal

by Widya on 24 Agustus 2020 0 comments

Lake Toba Film Festifal (LTFF) 4.0 kembali hadir meski di tengah pandemi. Acara persembahan Rumah Karya Indonesia ini tampil beda dari tahun-tahun sebelumnya. Melihat situasi kesehatan yang tidak memungkinkan terjadi kerumunan LTFF 4.0 mengadakan webinar dengan tema Gairah Film Lokal Berbasis Komunitas, Senin (24/8) melalui Zoom meet. Webinar ini di isi oleh pemateri Bowo Leksono Direktur CLC Purbalingga, Onny Kresnawan Ketua Asosiasi Dokumentaris Nusantara Medan, Ori Semloko Direktur LTFF 4.0, dan dimoderatori oleh Jhon F Siahaan salah satu pendiri RKI. Pada webinar ini Bowo Leksono menceritakan bagaimana film lokal mampu terus hidup dalam semangat komunitas film di Purbalingga. Komunitas film yang memiliki basis pelajar itu berbaur erat denganmasyarakat seperti mengadakan acara layar tancap sebagai agenda rutin. “kita harus melibatkan masyarakat untuk menekan permasalahan dana. Juga jagan hanya mikir produksi tapi bagaimana distribusi film ini bisa sampai ke masyarakat,” ujarnya. Bagi Bowo film juga amat penting di masa sekarang ini. Di mana semua sudah menggunakan video mulai dari orang tua sampai ke anak kecil untuk berekspresi. Di sanalah kesempatan bagi pencinta film menggunakan film lokal untuk perkembangan lingkungan sosial kemasyarakatan di lingkungan sekitarnya. Onny Kesnawan menyampaikan LTFF juga dapat mulai mengembangkan sayapnya agar gairah film lokal dapat sampai ke banyak daerah di Sumatera Utara. Seperti sineas di Langkat atau Sibolga dapat hadir bersama-sama membicarakan karyanya.Aanak-anak juga semangat berkarya kedepan. Jadi, bukan fokus pada sebuah ajang kompetisi. “Jangan melulu kompetisi tapi bukalah ruang-ruang yang yang lebih memberikan nilai-nilai untuk berdiskusi,” ujar Onny. Menaggapi hal ini Ory Semloko menyampaikan LTFF memiliki tujuan utama agar dapat membentuk ekosistem film di Sumatera Utara.Semua berawal dari kesadaran bagaimana caranya dapat merekam kekayaan kebudayaan atau kesenian yang ada di Sumatera Utara. Menurut Ory Sumatera Utara sudah memiliki banyak komunitas film. Namun, pergerakannya juga hilang muncul akhirnya mempengaruhi karya yang dibuat. Harusnya sesama komunitas film juga bisa saling berkolaborasi untuk mengangkat kisah-kisah kebudayaan dalam sebuah film. Hal ini tentu menghidupkan gairah film lokal karena dekat dengan masyarakat. “Kita ini belum menyadari kalau kita itu punya kekayaan tapi kita masih berkiblat ke Hollywood ataupun ke film Indonesia. Akhirnya kita tidak bisa melihat lingkungan kita sendiri,” ujar Ory. Edy Suwardy, Perwakilan Perfilman, Musik, dan Media Baru Direktorat Jenderal Kebudayaan sebagai pendukung kegiatan LTFF 4.0 mengapresiasi Webinar yang diadakan LTFF. Menurutnya ini membangkitkan semangat perfilman di Indonesia yang sekitar lima bulan tertidur akibat Covid-19. “Mudah-mudahan ini menjadisemangat dari komunitas pada komunitas dan menjadi upaya untuk menghasilkan karya yang dapat dirasakan juga manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Edy. Webinar hanya satu dari rangkaian acara LTFF 4.0. Kedepannya LTFF juga akan mengadakan Masterclass, sebuah ruang diskusi untuk berbagi ilmu dengan maestro perfilman pada 24-30 Agustus. Diisi dengan materi Directing, cinematography, script building, audio, dan artistik. Disusul dengan Online Acting Competition, sebuah kompetisi seni peran secara online sebagai output rangkaian kegiatan LTFF 4.0. Kompetisi ini terbagi atas tiga tahap seleksi diantaranya, seleksi karya, pembacaan skrip yang diberikan panitia, dan akting monolog. Seluruh seleksi ini dilakukan melalui Zoom Meet dan Youtube. Penilaian akan dilakukan oleh juri dan jumlah suka di Youtube. Pendaftaran dibuka mulai 15-30 Agustus.

Baca Selengkapnya
Meretas Bunyi di tengah Pandemi

Meretas Bunyi di tengah Pandemi

by Avena Matondang on 11 Agustus 2020 0 comments

Press Release Perhelatan Indonesia Traditional Music Collab 2020 (ITMC 2020) telah usai tepat pukul 16.00 WIB seiring pengumuman tiga juara dan dua pilihan favorit berdasarkan perhitungan tontonan digital youtube dan hasil kurasi dari kurator. ITMC 2020 yang didukung oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh adalah sebagai strategi menjaga ke berlangsungan kultur tradisi (pertunjukan musik) dan strategi di masa pandemi covid19 dapat dikatakan berhasil menghimpun keberagaman bunyi nusantara yang diwakili oleh komposer peserta yang tersebar di penjuru Indonesia, sebagai catatan, ITMC 2020 menghimpun kurang lebih 60 komposer muda dengan latar belakang tradisi dan pengejawantahan di dunia virtual global. Para peserta melewati 2 tahap seleksi pembuatan karya yaitu tahap 25 Besar dengan mengangkat tema “Alam” dan tahap grand final 10 Besar dengan mengangkat “Bhinneka Tunggal Ika” atau keberagaman, mengingat Indonesia terdiri dari banyak suku dan budaya. Adapun Juara Pertama yaitu dengan nama grup “Bunga dan Bangun” yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, dengan karya mereka yang berjudul “Swastria”. Secara musikal, karya ini mengadopsi idiom-idiom dari beberapa jenis kesenian, diantaranya Ronggeng Gunung, Kepesindenan, beluk, Terbang Buhun, Tarawangsa, dan Degung. Juara Kedua berasal dari Sumatera Utara dengan nama Grup “Andre Saragih dan Hans Hutagalung” dengan judul karya “Nabinatur”. Komposisi ini bercerita tentang wacana kebhinekaan Indonesia hari ini yang digerus oleh kepentingan pribadi dan golongan, dari sudut pandang etnik Simalungun secara khas mengutamakan kebenaran di atas segalanya “Habonaran Do Bona” sebagai praktik kultural kebhinekaan yang membumi dan membawa pesan persatuan untuk seluruh semesta. Juara Ketiga yaitu dengan nama grup “Lamomba Production” yang berasal dari Sumatera Barat dengan judul karya “Bedo Baciek An”. Karya Komposisi ini terinspirasi dari keberagaman budaya yang ada di Indonesia atau yang dikenal dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika. Menurut pengkarya, salah satu faktor yang mempengaruhi persatuan dalam perbedaan ini adalah adanya rasa toleransi yang tinggi dari masing-masing budaya terhadap budaya lain. Selain tiga pemenang yang terpilih, juga ada pemenang favorit pilihan penonton berdasarkan jumlah like yang banyak di youtube dan pemenang favorit pilihan kurator. Adapun pemenang favorit pilihan penonton yaitu dengan nama grup “Dono Roso” dengan judul karya “Bhinneka Tunggal Ika” dan Pemenang favorit pilihan kurator yaitu dengan nama grup “Teras Ensambel” dengan judul karya “Diafragma”. “Berkat karya peserta yang bermacam latar belakang budaya menambah pengetahuan dan sulit untuk menilai sebuah karya karena setiap individu memiliki sudut pandang yang berbeda”, ucap Brevin Tarigan selaku Ketua Dewan Kurator ITMC 2020. Ragam peserta dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan Sulawesi menjadi bukti kuat jikalau anak muda adalah penerus kultur tradisi. ITMC 2020 yang berlangsung secara virtual menghadirkan keberagaman (bhinneka) komposisi dan komposer dari geo-kultur nusantara. Begitupun kurator ITMC dengan keberagaman latar belakang seni; Ojak Manalu (dir. Rumah Karya Indonesia), Gondrong Gunarto (Solo), Rino Dizapati (Pekanbaru), Brevin Tarigan (Medan), Avena Matondang (Medan). “Jadikan kegiatan ini menjadi bentuk silahturahmi bagi para peserta, kurator maupun panitia yang menjadi penguat dan pengikat di masa covid19”, tambah Avena Matondang sebagai salah satu kurator ITMC 2020. Ojax Manalu selaku Direktur Rumah Karya Indonesia berharap dapat melaksanakan kegiatan seperti ITMC 2020 dalam skala besar, yang dapat diolah dan bermanfaat bagi seniman-seniman khususnya anak muda millenial. Keberagaman karya sebagai silaturahim bunyi adalah gagasan murni mempertemukan tradisi dalam bunyi-bunyian nusantara dan kelak menjadi pertemuan tradisi adaptif membangun kultur tradisi yang adaptif dalam pemajuan kebudayaan Indonesia. Ori Semloko selaku Ketua Panitia ITMC juga sangat mengapresiasi para peserta yang sudah ikut berpartisipasi dan berharap kedepannya dapat kembali mengumpulkan para komposer-komposer muda dalam ITMC selanjutnya. Rumah Karya Indonesia

Baca Selengkapnya
Indonesia Emas 2045: Anak Muda dan Kesadaran Bernegara

Indonesia Emas 2045: Anak Muda dan Kesadaran Bernegara

by Sagitarius Marbun on 25 Juni 2020 0 comments

Dalam penelitian yang dilakukan Tempo dan Orbmedia, bahwa anak muda yang peduli pada pemerintahan menolak terlibat dalam kegiatan bernegara melalui politik praktis pada survei yang dilakukan terhadap 979 ribu orang di 128 negara pada tahun 1980-2018. Di Indonesia sendiri, persentase anak muda mendominasi kelompok umur pemilih paling banyak pada pemilu 2019. Namun usai kompetisi politik, anak muda tidak banyak lagi yang terlibat dalam kegiatan bernegara. Pada pemilu 2019 sekitar 30 persen DPR-RI terpilih merupakan orang-orang yang terafiliasi dengan kerabat kepala daerah dan yang terlibat dalam bisnis berdasarkan kuantitatif demokrasi. Hal ini disampaikan Martin Manurung Praktisi Partai Nasdem dalam Diskusi Virtual 1000 Tenda, Kamis (25/6) Menurut Martin, sekarang ini anak muda semakin apatis terhadap politik. Ini menyebabkan semakin banyaknya repersentatif kekuatan kekuasaan pada politik. Sekarang ini, seluruh unsur kehidupan ditentukan oleh peraturan yang berlaku di negara. Jika anak muda ingin mengubah kebijakan yang tidak sesuai anak muda haruslah masuk ke dalam politik itu sendiri. Dan yang menajdi tantangan sekarang ini adalah, banyak anak muda yang terlena kepada zaman praktis, terlalu termotivasi pada hal-hal yang instan. Martin menjelaskan realitas politik yang terjadi di lapangan harus dilihat, 30 persen perubahan dari pemikiran, sudah terbilang bagus. Dewasa ini, pikiran-pikiran politik Indonesia dinilai masih pada pemikiran orang tua dan anak-anak muda diharapkan untuk memberikan warna perubahan pada politik Indonesia. anggapan mimpi tentang perubahan hanya sekedar wacana ketika masuk ke dalam suatu sistem. Untuk mengantisipasi pemikiran tersebut, sering-seringlah turun ke lapangan, dan lihatlah realitas yang terjadi di lapangan. “Jika kita turun ke bawah, kita akan tetap terkoneksi dengan mimpi-mimpi besar kita,” ucap Martin. Edward Suhadi Aktivis Politik membenarkan pendapat Martin, ia berpendapat keengganan anak muda untuk terlibat dalam politik praktis adalah karena anak muda dekat dengan pemikiran yang idealis. Anak muda cenderung lebih aktif di sosial media menyerukan keterlibatan pada kampanye yang dirasa semu. Ia juga berpendapat anak-anak muda lebih banyak beropini buruk di media sosial tanpa menelaah terlebih dahulu apa yang ia sampaikan. Ia menilai, sekarang ini anak muda banyak yang ragu terjun ke dunia politik karena alasan stigma ang tertanam di lingkungan anak muda. Solusi yang ditawarkan adaah bertemanlah dengan orang-orang yang senang terhadap politik. Pada 2045 diperkiraan Indonesia mengalami bonus demografi dimana usia produktif jauh melebihi ketersediaan lapangan pekerjaan dilihat sebagai tantangan menghadapi masa emas 2045. Tantangan lainnya adalah radikalisme, korupsi, isu gizi buruk, human trafiking, juga perubahan iklim. Hal ini disampaikan Fernando Sihotang Kaukus Muda Siantar. Sekarang ini, politik merupakan manifestasi kepentingan. Oleh karena itu, anak muda harus masuk ke dunia politik guna mencapai kepentingan-kepentingannya, yakni perubahan kesejahteraan, dan lain sebagainya. Untuk masa emas di 2045, anak muda harus memperjuangkan perubahan yang nantinya dinikmati anak muda zaman sekarang. Indonesia termasuk negara beruntung, pada Undang-undang Pemilu 2017, anak muda yang bisa terlibat dalam parlemen yakni 21 tahun, ini merupakan peluang anak muda untuk mencapai perubahan itu. Fernando menilai yang menyebabkan anak muda apatis terhadap politik adalah karena jargon-jargon politik yang pada kenyataannya sulit untuk direalisasikan. Pakar meyebutkan Indonesia pada tahun 2045 akan menjadi negara terbesar dalam segi ekonomi, hal ini akan bisa dicapai jika anak-anak muda yang berpihak pada perubahan terjun pada politik. Mian Manurung Koordinator Friedrich Ebert Siftung menambahkan untuk mencapai masa depan politik yang baik hendaknya politik itu dimulai dari diri sendiri baik karena segala peraturan yang berlaku adalah produk dari politik itu sendiri. Perlu diketahui, ini merupakan webinar virtual ke empat yang dilakukan oleh 1000 Tenda yang bekerja sama dengan Friedrich Ebert Siftung Indonesia dan Kementrian Koordiantor Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko – PMK) yang dimoderatori oleh Emi Paradisa.

Baca Selengkapnya
1000 Tenda adakan Diskusi Webinar

1000 Tenda adakan Diskusi Webinar

by Sagitarius Marbun on 10 Juni 2020 0 comments

1000 Tenda melakukan diskusi webinar di masa pandemi. Hal ini dijelaskan oleh Tumpak Winmark Hutabarat Direktur 1000 Tenda. Festival 1000 Tenda Meat yang akan dilakukan pada 26 sampai 28 Juni batal karena pandemi covid-19. Oleh karena itu, 1000 Tenda di bawah Rumah Karya Indonesia melakukan webinar 1000 Tenda yang mendiskusikan seputar isu-isu yang tengah berkembang di masyarakat. Baik kesehatan, ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Kali ini 1000 Tenda akan membahas tema Pemajuan Kebudayaan Indonesia yang akan dikupas Oleh Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Hilmar Farid, Ojax Manalu Direktur rumah Karya Indonesia, dan Tumpak Hutabarat sendiri dengan moderator AT Arif. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 asal 32 yaitu negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Tumpak Winmark Hutabarat atau yang lebih dikenal dengan nama Siparjalang menyatakan tujuan diadakannya webinar 1000 Tenda ini adalah memunculkan kembali semangat 1000 Tenda di tengah pandemi Covid 19. Sebelumnya telah diumumkan 1000 Tenda yang dilaksanakan Juni nanti dibatalkan untuk mencegah penyebaran covid 19. “1000 Tenda ingin mengajak anak-anak millenial untuk tidak menyerah pada pandemi dan tetap merasakan sensasi 1000 Tenda melalui diskusi webinar yang dilakukan via zoom ini,” kata Tumpak. Tumpak menambahkan diskusi virtual ini juga menjadi formula baru untuk saling belajar dan berbagi pengetahuan dengan para peserta 1000 Tenda selama pandemi. Diskusi ini akan diikuti oleh 100 peserta yang meliputi pencinta lingkungan, aktivis generasi muda, pegiat ekonomi kreatif, followers 1000 Tenda dan Rumah Karya Indonesia, serta jaringan anak muda kementerian koordiator bidang pembangunan manusia dan kebudayaan. yang telah melakukan pendaftaran pada panitia diskusi virtual 1000 Tenda. Diskusi webinar 1000 Tenda ini mengandeng Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Friedrich Ebert Siftung Indonesia. Adapun webinar ini akan dilakukan sebanyak tujuh sesi di setiap hari Kamis. Webinar ini dilaksakan dalam rentan waaktu Juni hingga Juli dengan tema antara lain, “Covid dan Gagasan Keadilan Sosial”, “1000 Tenda dan Event Kreatif di Tengah Pandemi Corona”, Pemajuan Kebudayaan Indonesia,” ‘Pekerjaan Anak Muda di Masa Mendatang”, Indonesia Emas 2045: Kenapa Politik Menjadi Penting untuk Anak Muda”, Anak Muda Membangun Desa”, dan “Dunia Penulisan dan Perjalanan”. Tumpak berharap, webinar ini dapat diikuti oleh peserta-peserta 1000 Tenda di mana pun berada. Dia juga berharap, dengan kehadiran webinar ini bisa sedikit mengobati hati para pejalan dan peserta 1000 Tenda akibat wabah pandemi covid 19 yang menyebabkan mereka tidak bisa jalan-jalan atau tidak bisa menikmati keindahan alam. “Juga generasi muda sekarang menjadi generasi cerdas, kritis, dan peduli,” tutupnya.

Baca Selengkapnya
Masa Pandemi, 1000 Tenda Adakan Webinar

Masa Pandemi, 1000 Tenda Adakan Webinar

by Sagitarius Marbun on 6 Juni 2020 0 comments

Sejak Maret lalu, Indonesia dihebohkan kasus pandemi covid -19 setelah 2 orang WNI dinyatakan positif. Pemerintah langsung mengambil tindakan work from home, study from home, dan melarang terjadinya kerumunan. Hal ini tentunya menyebabkan pekerja kreatif kehilangan mata pencaharian. Oleh karena itu, 1000 Tenda di bawah Rumah Karya Indonesia melakukan webinar 1000 Tenda yang mendiskusikan seputar isu-isu yang tengah berkembang di masyarakat. Baik kesehatan, ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Tumpak Winmark Hutabarat atau yang lebih dikenal dengan nama Siparjalang menyatakan tujuan diadakannya webinar 1000 Tenda ini adalah memunculkan kembali semangat 1000 Tenda di tengah pandemi Covid 19. Sebelumnya telah diumumkan 1000 Tenda yang dilaksanakan Juni nanti dibatalkan untuk mencegah penyebaran covid 19. “1000 Tenda ingin mengajak anak-anak millenial untuk tidak menyerah pada pandemi dan tetap merasakan sensasi 1000 Tenda melalui diskusi webinar yang dilakukan via zoom ini,” kata Tumpak. Adapun webinar ini akan dilakukan sebanyak tujuh sesi di setiap hari Kamis. Webinar ini dilaksanakan dalam rentan waktu Juni hingga Juli dengan subtema antara lain, “Covid dan Gagasan Keadilan Sosial”, “1000 Tenda dan Event Kreatif di Tengah Pandemi Corona”, “Pemajuan Kebudayaan Indonesia”, “Pekerjaan Anak Muda di Masa Mendatang”, “Indonesia emas 2045: Kenapa Politik Menjadi Penting untuk Anak Muda”, “Anak Muda Membangun desa”, dan “Dunia Penulisan dan Perjalanan”. Tumpak berharap, webinar ini dapat diikuti oleh peserta-peserta 1000 Tenda di mana pun berada. Dia juga berharap, dengan kehadiran webinar ini bisa sedikit mengobati hati para pejalan dan peserta 1000 Tenda akibat wabah pandemi covid 19 yang menyebabkan mereka tidak bisa jalan-jalan atau tidak bisa menikmati keindahan alam.

Baca Selengkapnya
Pandemic for Arts, Ruang Alternatif Pertunjukan Seni di Sumatera Utara

Pandemic for Arts, Ruang Alternatif Pertunjukan Seni di Sumatera Utara

by Sagitarius Marbun on 05 Mei 2020 0 comments

Medan, 5 Mei– Persoalan global yaitu covid 19 yang juga sedang melanda Indonesia dan kita berharap dapat cepat teratasi dan berlalu, agar kita bisa menjalani pertemuan - pertemuan diruang sosial seperti biasa hadir kembali. Dinamika perubahan berlahan mulai terjadi dimulai dari pertengahan maret 2020 dan Pemerintah kita menerapkan masa darurat bencana akibat virus covid 19 sampai sekarang ini. Di Sumatera Utara bentuk kesenian teater tradisi, pertunjukan musik serta pertunjukan tradisi masih intens melakukan pertunjukan-pertunjukan diruang publik, pesta nikahan, kegiatan organisasi dan pertunjukan-pertunjukan teater modern terus bergelut yang hampir rata-rata para pemainnya bermata pencaharian total dari kesenian tersebut, sesuatu hal yang sangat perlu kita apresiasi. Di sisi lain, sekarang ini ruang- ruang pertemuan yang melibatkan kesenian baik skala besar dan kecil akan sulit secara langsung dilaksanakan dari dampak covid 19 yang pemerintah menghadirkan sebuah peraturan lewat Maklumat Kapolri dan Pemberitahuan Pemerintah di Sumatera Utara, agar tidak melakukan kegiatan yang berpotensi mengumpulkan orang. Seniman tradisi dan modern akan banyak kehilangan ruang kesenian dalam pencapain artistik yang berdampak langsung pada ekonomi senimannya sendiri. Inilah salah satu yang mendorong hadir sebuah ruang pertun jukan alternatif di tengah pandemik ini dengan mengikuti standar kesehatan dari Kementrian Kesehatan, ucap Ojax Manalu. Oleh sebab itu Rumah Karya Indonesia menginisiasi sebuah kegiatan dengan Pandemic for Arts, Spirit Of Online Performance hal ini disampaikan oleh Ketua Rumah Karya Indonesia Ojax Manalu, Selasa (5/5). Ojax menjelaskan Pandemic for Arts adalah sebuah acara yang dilakukan secara virtual yang rencanakan akan dilaksanakan sampai 40 seri dimana setiap serinya melibatkan 15 Orang Seniman dan Pekerja Kreatif yang ada di Sumatera Utara. Ia juga menambahkan nantinya Pandemic for Arts akan dilaksanakan mulai Mei hingga September 2020. Ojax mengatakan Pandemic for Arts bertujuan untuk menghadirkan ruang alternatif bagi para seniman dan pekarya kreatif di Sumatera Utara selama masa pandemik ini masih berlangsung. Selain Ruang Apresiasi dan Kolaborasi, Pandemik For Arts ini juga menitikberatkan kekuatan gotong royong dari para sponsorship baik swasta maupun pemerintah dan donatur secara individual atau secara kelompok/lembaga artinya kita juga harus mendukung seniman dan pekerja kreatif agar bisa bertahan dimasa pandemik ini. Walau tidak secara general, banyak Seniman dan Pekerja Kreatif kehilangan pekerjaan dan penghasilan selama wabah covid-19. Ruang itu berupa pertunjukan daring dimana para Seniman dan pekarya kreatif berfungsi sebagai peramu pertunjukan. Selain itu, Pandemic for Arts juga bertujuan sebagai wadah alternatif kesenian di Sumatera Utara saat wabah pandemik Covid 19, sebagai upaya untuk mendukung seniman dan pekerja kreatif untuk tetap berkarya dan bekerja di rumah, dan membantu menghadirkan dampak ekonomi. Dan sampai relis ini diberitakan, kegiatan ini baru didukung oleh satu lembaga pemerintah yang mendukung kegiatan ini untuk 3 seri, melalui relis ini akan mengajak para sponsorship dan donatur agar bisa saling bergotong royong mewujudkan kegiatan Pandemic For Arts. “Adapun pertunjukan ini nantinya akan dipublikasikan dan ditampilkan melalui livestreaming di Sosial Media Rumah Karya Indonesia, seperti Youtube, Facebook, Instagram dan media sosial Sponsorship lainnya,” tutur Ojax. Ojax berharap dengan adanya Pandemic for Arts ini betul-betul bisa berdampak bagi seniman dan pekarya kreatif di Sumatera Utara, tentang Ruang Apresiasi dan khususnya dapat membantu di sektor ekonominya. Selain itu, ia juga berharap kiranya kreatifitas dan kesenian di Sumatera Utara tidak mati suri akibat Pandemik ini. Rumah Karya Indonesia

Baca Selengkapnya