Artikel Rumah Karya Indonesia

Pekerjaan Anak Muda di Masa Depan

Pekerjaan Anak Muda di Masa Depan

by Sagitarius Marbun on 19 Juni 2020 0 comments

Pandemi menjadi critical moment yang mengubah cita-cita generasi muda Indonesia. Pandemi menjadi ajang untuk merevisi cita-cita dan visi pekerjaan anak muda kedepannya. Wabah covid-19 memaksa pemuda untuk memikirkan opsi-opsi pekerjaan yang dahulunya tidak dipertimbangkan sama sekali sekarang dilirik untuk mendapatkan peluang pekerjaan. Misalnya, pemuda desa yang pindah ke kota karena tidak ingin dianggap kolot atau ketinggalan zaman. Dengan adanya pandemi, ada baiknya para pemuda mempertimbangkan semua resort sosial ataupun alam yang ada di desa untuk bisa membangun peradapan baru desa yang sustainable. Hal ini disampaikan Mohammad Faisal dalam Diskusi Webinar 1000 Tenda yang ke tiga, Kamis (18/6). Faisal menegaskan pemuda harus bisa membedakan antara perkembangan teknologi dengan narasi pekembangan teknologi. Ketika berbicara dengan revolusi industri 4.0, semua orang beranggapan teknologi merupakan suatu solusi bagi sektor kehidupan, mulai dari politik, sosial, sampai pendidikan. Padahal perkembangan teknologi itu dewasa ini belumlah sampai di sana dan sampai sekarang masih menjadi perdebatan. Dalam sebuah riset yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan etnografi, dengan masuk ke komunitas-komunitas dan menemukan bahwa generasi muda Indonesia menemukan mekanis bawah sadar untuk melawan narasi revolusi industri 4.0. Ketika penetrasi mobile phone semakin pesat dan adopsi terhadap media sosial semakin tinggi anak muda Indonesia malah semakin banyak membuat komunitas. Hal ini menunjukkan sebuah resistensi. Anak muda Indonesia yang seharusnya lebih individual, lebih kompetitif malah menjalin integritas komunitas. Pekerjaan yang dinilai tinggi adalah pekerjaan yang kontemplatif. Adalah pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan tidak bisa direplika. Influencer dan konten creator adalah salah satu pekerjaan yang mudah direplika. Sejak narasi revolusi indutri 4.0 dipopulerkan, narasi tersebut tidak bisa menampung seluruh tipe anak muda dengan beragam potensi sosial dan potensi skill dan kemampuan yang dimiliki. Di Indonesia sendiri, narasi besar itu tidak mampu menampung keberagaman anak muda baik karakter, aspirasi maupun budaya terutama ketika bonus demografi terjadi. Kecenderungan anak muda berbeda dengan kecenderungan pekerjaan yang diperoleh sesuai dengan daerahnya. Memunculkan pekerjaan yang adaptif dengan perkembangan zaman. Di masa wabah covid 19 adalah ajang melirik kembali pekerjaan-pekerjaan yang tidak diperkirakan sebelumnya. hal ini dijelaskan Avena Matondang Antropolog Sumatera Utara. Di Sumatera Utara anak muda terbilang kreatif dan tidak tergantung pada teknologi. Anak muda di Sumatera Utara lebih kreatif yang membuat pekerjaan menjadi adaptif bagi pekerjaannya. Teknologi hanya menjadi aplikasi yang menjadi bunga untuk pekerjaan yang dilakoni. Menurutnya, pekerjaan anak muda di masa depan bukanlah suatu masalah. Masalah tersebut sudah dijawab dengan memanfaatkan sisi lain dari pekerjaan yang selama ini digeluti. Strategi pekerjaan di masa depan adalah pekerjaan yang tidak mudah diduplikasi. Di Sumatera Utara banyak pemuda dan komunitas yang berpotensi menjadi influencer yang mengembangkan hal yang ada padanya dan menjadi jawaban atas hipotesa pekerjaan yang adaptif bagi anak muda yang cocok untuk masa depan. Diskusi Webinar 1000 Tenda ke tiga ini dihadiri oleh Mian Manurung Koordinator Program Friedrich Ebert Siftung Indonesia dan Try Harianto dari Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan, Manusia, dan Kebudayaan Indonesia yang dimoderatori oleh Liston Damanik.

Baca Selengkapnya
Pemajuan Kebudayaan Indonesia

Pemajuan Kebudayaan Indonesia

by Sagitarius Marbun on 12 Juni 2020 0 comments

Kalau bersaing di industri IT, sulit kita untuk mengejar bangsa lain. Saya kadang berpikir, apakah kita tidak sebaiknya mengembangkan core business kita di bidang seni budaya – Presiden RI Joko Widodo. 1000 Tenda adalah salah satu apaya Pemajuan Kebudayaan Indonesia, demikian disampaikan Sergio Grassi Resident Director Friedrich Ebert Siftung Indonesia dalam kata sambutannya dalam diskusi virtual 1000 Tenda, Kamis (11/6). Ia mengatakan sangat mendukung kegiatan 1000 Tenda yang kini dilakukan secara virtual. Selain itu ia juga mendukung anak-anak muda. Dalam diskusi virtual ini, 1000 Tenda bekerja sama dengan Friedrich Ebert Siftung Indonesia dan Kementerian Kebudayaan Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Pemajuan kebudayaan Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23 Ayat 1 yakni; Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaannya. Juga dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2007 Pasal 1; Pemajuan kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Banyak hal yang akan kita peroleh jika menyeriusi investasi dengan arus utama kebudayaan yaitu, ekonomi, merawat keberagaman dan kekayaan budaya bangsa, mengurangi depedensi Indonesia pada sektor migas yang sarat biaya ekologis, melahirkan mentalitas bangsa yang kompetitif, kreatif, dan berwawasan budaya, dan mengurangi depedensi Indonesia pada sektor tambang yang sarat biaya sosial, demikian dijelaskan Hilmar Falid Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Dalam proses pemajuan budaya, perlu perlindungan bagi kebudayaan lalu pengembangan terhadap kebudayaan tersebut, dan pemanfaatan kebudayaan itu, misalnya pengunaan bahasa-bahasa lokal di kehidupan sehari-hari. Selain itu juga, pembinaan diperlukan untuk pemajuan kebudayaan. Keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam pengembangan kebudayaan karena masyarakatlah yang empunya kebudayaan. Setidaknya ada 342 Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah yang tersebar di kabupaten/kota yang ada di Indonesia dan ini sangat penting untuk melastarikan budaya yang ada di Indonesia. Ketersediaan ruang bagi keragaman ekspresi budaya yang mendorong interaksi untuk memperkuat kebudayaan yang inklusif, melindungi, dan mengembangkan praktik kebudayaan tradisional, serta mengembangkan dan memanfaatkan kebudayaan untuk memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional menjadi agenda strategi kebudayaan dalam jangka dua dekade ini. Selain itu, juga memanfaatkan objek pemajuan kebudayaan, memajukan kebudayaan yang melindungi keanekaragaman hayati, reformasi kelembagaan dan penganggaran kebudayaan, dan meningkatkan peran pemerintah sebagai fasilitator pemajuan kebudayaan. Memasuki era keadaan normal baru, wabah telah membuat sektor seni budaya agak mandek. Padahal seni budaya adalah tulang punggung kehidupan publik. Tanpa sajian seni budaya baik film, musik, maupun pameran pertunjukan alangkah hampanya kehidupan. Kehadiran flatform digital dalam pertunjukan seni dan penyajiannya akan sangat membantu dalam pemajuan kebudayaan Indonesia seperti tanyangan di siaran TVRI dan flatform Indonesia Kaya. Salah satu usaha pemajuan kebudayaan itu adalah Festival berbasisis masyarakat yang dikembangkan komunitas Rumah Karya Indonesia. Ojak Manalu Direktur Rumah Karya Indonesia menceritakan bahwasanya festival yang dilakukan sepanjang tujuh tahun ini menjadikan masyarakat sebagai pemeran utama setiap kegiatannya. Kearian lokal adalah bingkai setiap kegiatan yang dikolaborasikan dengan isu yang tengah berkembang di masyarakat. Festival adalah laboratorium kebudayaan. Di sana, kita dapat belajar, menciptakan, dan pengapresiasi karya seni yang saling menguatkan segala pihak yang bergabung. Di laboratorim ini juga kita dapat mengenal dan belajar tentang kebudayaan, berbagi ilmu bersama masyarakat, pengapresiasi peristiwa budaya, dan menciptakan ruang pertunjukan alternatif. Dari tujuh program Rumah Karya Indonesia, Tao Silalahi Arts Festival yang dilaksanakan di Silalahisabungan, Dairi adalah program yang menunjukkan dampak yang sangat signifikan bagi masyarakat baik dalam kebudayaan, sosial, dan ekonomi. Sjamsul Hadi Direktur Pembinaan Kepercayaan Kepada Tuhan yang Maha Esa dan Mayarakat Adat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menambahkan banyak ruang-ruang untuk menampung kebudayaan seperti Pekan Kebudayaan Nasional yang diharapkan menjadi inspriasi bagi daerah-daerah untuk membuat pekan budaya daerah. Perlu diketahui diskusi webinar 1000 Tenda ini dihadiri oleh Sergio Grassi (Resident Director Friedrich Ebert Siftung indonesia) dan Mian Manurung (Koordinator Program Friedrich Ebert Siftung Indonesia), Nyoman Shuida Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan, Manusia, dan Kebudayaan Indonesia yang dimoderatori oleh Ahmad Arif Tarigan.

Baca Selengkapnya
1000 Tenda dan Event Kreatif di Tengah Pandem Corona

1000 Tenda dan Event Kreatif di Tengah Pandem Corona

by Sagitarius Marbun on 6 Juni 2020 0 comments

Kamis, 4 Juni Mian Manurung Koordinator Friedrich Ebert Siftung Indonesia dan Tri Harianto dari Kementerian Koordinator Pembangunan, Manusia, dan Kebudayaan, dan 60 peserta lainnya mengikuti webinar 1000 Tenda yang kedua. Diskusi webinar kali ini menghadirkan narasumber-narasumber yang akan mengupas event yang terjadi selama pandemi covid-19. Kali ini diisi oleh Tumpak Winmark Hutabarat selaku Direktur 1000 Tenda dan Arie Prasetyo selaku Direktur BPODT dan dimoderatori oleh Jones Gultom. 1000 Tenda awalnya adalah sebuah gagasan yang ada di Tao Silalahi Arts Festival dan Lake Toba Film Festival, di mana keduanya adalah program lain dari Rumah Karya Indonesia. Kemudian pada 2019 1000 Tenda mengusung brand tersendiri, mengingat banyaknya peminat 1000 Tenda. Ada beberapa dampak 1000 Tenda baik pada komunitas, ekonomi, maupun pariwisata. Bagi komunitas, 1000 Tenda adalah wadah bagi komunitas dan pejalan bertemu, bersilaturahmi, dan saling belajar dan membagi ilmu. Bagi ekonomi, 1000 Tenda adalah moment untuk mendapatkan penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar. Tidak hanya saat event tetapi juga saat hari-hari biasa. Dari survei, ada sekitar 12 warung yang dibuka masyarakat di lokasi camping ground yang sebelumnya warung itu tidak ada di lokasi. Penghasilan lain pun diterima baik dari sewa toilet, sewa charger handphone, dan lain-lain. Dari segi pariwisata, 1000 Tenda telah membranding Meat. Sejak diadakannya 1000 Tenda Meat, Desa Meat menjadi pencarian nomor satu di google dan ribuan hastag di instagram. Tidak hanya itu, sejak diadakannya 1000 Tenda, setidaknya setiap minggu ada saja wisatawan yang datang untuk camping. Di masa pandemi, travelling adalah hal yang sangat diinginkan. Dari survei yang dilakukan research senter hal yang sangat diingin dilakukan setelah pandemi, adalah mengunjungi tempat wisata. Di masa pandemi memang kita tetap bisa berwisata, banyak museum yang membuat penelusuran virtual yang dapat kita nikmati di rumah. Kementrian pariwisata juga banyak mendigitalkan destinasi wisata untuk membunuh sedikit kerinduan travelling meski indra dan perasaan kita tak bisa dibohongi. Hal ini dijelaskan oleh Arie Prasetyo. Dari survei yang dilakukan juga, gelombang pariwisata akan dimulai pada Agustus yang akan didominasi anak milenial –karena memiliki resiko terkena covid paling rendah untuk memulai travelling. Food tourismn juga hal yang akan dikejar-kejar orang pada gelombang pariwisata ini. Paradigma dan trend baru parawisata, orang-orang akan mencari tempat wisata yang memberlakukan protocol kesehatan dan tidak ramai, penggunaan trasportasi yang lebih pribadi, dan menggunakan akomodasi yang memiliki kamar yang mengutamakan sanitasi. Di masa pandemi, banyak event dilakukan secara virtual, banyak konser-konser dilakukan secara live di media-media sosial, melakukan pertemuan dan tranning webinar. Dengan adanya pandemi ini, ada beberapa hal positif yang terjadi yaitu, banyak orang sekarang memiliki banyak waktu untuk melakukan hal yang dahulunya memiliki porsi yang terbatas. Menciptapkan ruang untuk pelaku ekonomi kreatif dan perkumpulan komunal para seniman baik virtual maupun non virtual. Mengajak komunitas untuk terlibat langsung dalam mensosialisasikan protokol kesehatan untuk melaksanakan event non-virtual pada masa peralihan.

Baca Selengkapnya
Tao Silalahi Arts Festival 2019; Urdot Kultural Anak Muda

Tao Silalahi Arts Festival 2019; Urdot Kultural Anak Muda

by Avena Matondang on 6 Juni 2020 0 comments

Perjalanan kultural adalah pengalaman yang tak dapat tergantikan dengan hal apapun, idiom ini juga berlaku pada kegiatan Tao Silalahi Arts Festival 2019 yang berlangsung pada tanggal 6 hingga 8 September di Silalahi, Kabupaten Dairi. Kegiatan Tao Silalahi Art Festival yang dihadiri oleh 9.253 orang sebagaimana dicatat oleh panitia TSAF 2019 dan Rumah Karya Indonesia (RKI) ini merupakan suatu pencapaian yang menggairahkan dalam perspektif gerak pariwisata Sumatera Utara yang stagnan dan berorientasi pada keuntungan finansial menanggalkan sisi kultural masyarakat tempatan. Tao Silalahi Arts Festival tidak menawarkan aspek kemewahan dan hospitality berlebihan layaknya kegiatan pariwisata secara umum melainkan menyuguhkan suatu pengalaman intrinsik secara personal sebagai cara membuktikan kegundahan generasi muda terhadap keberlangsungan kultur tradisi yang selama ini menjadi konsumsi golongan usia dan status sosial tertentu. Keberagaman akan latar belakang usia, jenis kelamin, asal daerah, etnis, religi hingga keberagaman bunyi, warna, visual bercampur menjadi sebentuk kekayaan pengalaman kultural Tao Silalahi Arts Festival 2019 dan narasi kultural 4.0 yang dipersiapkan sebagai upaya alih generasi. Layaknya urdot dalam simfoni gerak tor-tor, Tao Silalahi Arts Festival 2019 memberikan hal tersebut melalui rangkaian penyelenggaraan selama 4 tahun berturut-turut yang membangun kesepahaman kultur tradisi menjadi suatu wacana kontemporer yang larut dalam gerak masyarakat Silalahi, begitupun dengan peserta yang datang dari beragam daerah dengan beragam pemikiran dan satu tujuan yakni menyemai pemahaman kultural yang adaptif, selama itu pula Tao Silalahi Arts Festival telah menemukan urdot untuk berpijak dan menemukan ekuilibrium antara masyarakat, praktik kultural dan seni. Proses re-inventing menjadi celah penting dalam pelaksanaan Tao Silalahi Arts Festival 2019; hybrid, heterochrony, sinkretism bercampur dalam praktikal gerak seni tor-tor antara generasi lanjut usia (lansia) dan anak-anak tanpa perlu jatuh pada proses okupasi usia. Keriuhan Tao Silalahi Arts Festival adalah perayaan multifacet yang mampu menghadirkan dimensi ruang dan waktu kultural, dimensi seni, dimensi ekologi, dimensi tourism hingga atribusi kebersamaan dalam satu wadah; uning-uningan masyarakat Silalahi-Sabungan berpadu dengan bebunyian eksotis dan terbarukan, padu padan gerak tor-tor yang berkesinambungan dengan gerak atraktif teatrikal, jalinan benang demi benang tenunan ulos bertemu dengan spektrum warna. Menjadi pertanyaan penting dalam kegiatan Tao Silalahi Arts Festival 2019 hal apa yang mampu menarik personal hingga pada jumlah 9.253 untuk datang dan berdialektika? Pertanyaan yang dijawab atas rasa kebersamaan, berbagi pengetahuan melintasi sekat ruang dan waktu menanggalkan atribusi tak penting yang menghambat warisan pemahaman masa lalu. Penyelenggaraan Tao Silalahi Arts Festival 2019 membuktikan narasi kultural tidak dibangun oleh konsep nir-praktik dan oleh golongan akademis konseptual ataupun juga institusi pemerintah, narasi kultural generasi muda membuktikan bahwa kultural adalah hak bagi generasi muda untuk turut serta berdialektika dan membangun pemahaman kultural yang mumpuni. Pengalaman selama 49 jam berada di Tao Silalahi Arts Festival 2019 adalah putaran detik, menit hingga jam dalam suatu perjalanan membawa ingatan, meninggalkan kenangan, menggoreskan pengalaman yang terlalu cepat berlalu dengan segala keriuhan dialektika dan menyadarkan setiap pihak bahwa kultural dan seni adalah dua sisi pada koin yang sama dan kini dipegang oleh generasi muda yang melek terhadap teknologi, peduli akan kebersihan, mengerti akan kultural layaknya jargon menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa pilihan.

Baca Selengkapnya
Covid dan Gagasan Keadilan Sosial

Covid dan Gagasan Keadilan Sosial

by Sagitarius Marbun on 6 Juni 2020 0 comments

Dalam Webinar yang pertama, 1000 Tenda menghadirkan beberapa pemateri antara lain, Pdt. Basa Hutabarat dan Fernando Sihotang dari Perwakilan Komite Nasional Lutheran world Federation (KNLWF), Pritta Damanik dari Relawan Agensi PBB untuk Perlindungan Anak, dan Tumpak Hutabarat Direktur 1000 Tenda sendiri dengan Emi Paradisa sebagai pemandu diskusi. Diskusi dibuka dengan penjelasan Pdt. Basa Hutabarat, ia berpandangan pandemi telah membuka mata KNLWF atas orang-orang yang terdiskriminasi, yaitu mereka yang tidak terjamah semasa pandemi. Di masa pandemi banyak komunitas dan organisasi, baik gereja dan pemerintah yang melakukan donasi. Akan tetapi pengalokasiannya tidak merata. Banyak donasi tidak sampai pada orang yang benar-benar membutuhkan. Hal yang sama pun disampaikan oleh Fernando, ia berpandangan bahwa banyak akses baik kesehatan dan ekonomi yang tidak memadai yang membuat orang-orang yang rentan menjadi semakin rentan. Misalnya, ojek online dan pedagang kaki lima yang hanya mengandalkan mobilitas publik untuk memenuhi kebutuhan hidup. Secara garis besar yang rentan terdampak pandemi adalah mereka yang pendapatan di bawah rata-rata, dari riset yang telah dilakukan KNLWF terhadap pekerja non sektor yang dilakukan di Pematang Siantar, Simalungun, dan Tapanuli Utara pada profesi pemijit, petani, pedagang, pekerja kreatif, dan pekerja lain sebagainya sangat rentan pada kemiskinan yang menyebabkan mereka menjadi rentan pula terpapar covid-19 karena akses terhadap sanitasi yang terbatas. Selain itu, kelompok yang juga rentan terhadap dampak pandemi adalah mereka para pekerja imigran dan suaka, kelompok minoritas, dan para pengungsi acap kali mengalami deskriminasi dalam pembagian donasi sembako, bantuan sosial, dan lain sebagainya sebagainya. Adapun intervensi HAM dalam pencegahan pandemi covid-19, yaitu memastikan respon covid-19 tidak memperdalam kesenjangan dan marjinalisasi, memastikan negara melakukan kebijakan berkonsentrasi pada kelompok yang rentan, memastikan negara menghasilkan solusi lagitimate, dan transparansi informasi publik. Perempuan dan anak juga menjadi kelompok yang rentan terhadap dampak pandemi covid-19, hal ini disampaikan Pritta. Dalam masa krisis, perempuan dan anak 14 kali beresiko lebih besar dari pada laki-laki dewasa pada saat terjadi bencana. Dalam hal ini, ketimpangan gender juga sering dialami perempuan. Contohnya pada akses sanitasi dan edukasi, terbatasnya akses anak perempuan untuk mendapat pelajaran teknik pertahanan yang merupakan mitigasi perlindungan diri saat terjadi bencana. Work from home merupakan solusi terhadap pencegahan penyebaran virus corona. Akan tetapi, hal ini justru menimbulkan masalah yang lain yaitu, kekerasan. Pada masa pandemi, menurut data Komnas Perempuan terjadi peningkatan kekerasan terhadap perempuan sebanyak 90 persen dengan 199 kasus kekerasan seksual, fisik, dan sikis. Sedangkan peningkatan kasus kekerasan terhadap anak meningkat 70 persen, dalam tiga bulan 340 kasus kekerasan terhadap anak laki-lai dan 274 kasus anak perempuan. Adapun tantangan perempuan semasa pandemi, yaitu mengalami stres, mengalami kecemasan, kehilangan pekerjaan, beban domestik ganda, relasi kuasa tidak setara, berpotensi KDRT, dan akses terhadap layanan yang minim. Dari sisi anak yaitu, minimnya fasilitas pendidikan yang mendukung protokol kesehatan terhadap covid, tidak adanya solusi terhadap anak yang tidak mendapat mengikuti proses belajar mengajar secara daring, mengalami dampak tak langsung akibat masalah ekonomi dan sosial yang terjadi pada keluarga dan rentan terkena kekerasan, dan perkawinan anak usia dini. Tumpak memaparkan masa pandemi telah membuat anak-anak muda kehilangan mata pencaharian, apalagi anak muda yang bekerja di industri kreatif. Untuk bertahan hidup anak muda ini banyak yang menghabiskan uang tabungan, menjual barang, bahkan bergantung pada orang tua. Mereka tak memiliki modal untuk menciptakan usaha guna bertahan hidup semasa pandemi. Di lain sisi, banyak juga kelompok anak-anak muda yang melakukan donasi kepada masyarakat sekitar yang terdamapak covid, di Siantar sendiri ada kumpulan pengusaha muda dan kelompok anak muda siantar yang bertato yang terkenal dengan stigma kriminal melakukan aksi pembagian sembako kepada masyaraat Siantar. Mereka menciptakan solidaritas dan jaringan yang saling mendukung satu sama lain. Anak-anak muda juga mempergunakan kemajuan teknologi untuk melakukan donasi, contohnya melakukan streaming pertunjukan dan mengumpulkan donasi dari sana. Hal ini dengan tak langsung juga memunculkan saluran pemasukan kepada pekerja kreatif. tidak hanya senimannya tetapi juga pekerja kreatif meliputi kameramen, desainer grafis, dan lain sebagainya.

Baca Selengkapnya